“Alam raya pun semua tersenyum
Merunduk dan memuja hadirnya
Terpukau aku menatap wajahnya
Aku merasa mengenal dia
Tapi ada entah dimana
hanya hatiku mampu menjawabnya
Mahadewi tercipta untukku
Pencarianku pun usai sudah”
(Mahadewi-Padi)
Untian kata-kata di atas merupakan sebagian syair lagu dari Padi, sebuah grup Band asal Suarabaya. Piyu, seorang yang menciptakan lagu ini, dalam suatu jumpa pers, mengatakan bahwa tidak ada wanita yang lebih sempurna daripada Maria. Piyu adalah seorang katolik yang suka berdevosi kepada Maria. Mahadewi adalah bunda perawan Maria, karena itu lagu ini diabadikan kepada Maria. Sebagian kesuksesannya tidak terlepas dari seloroh devosi yang panjang dan tak henti-hentinya kepada Bunda Maria.
Kisah Piyu dengan praktik devosionalnya kepada Maria, hanya merupakan salah satu contoh dari kebanyakan orang yang setia berkanjang dalam doa-doa di hadapan Maria. Devosi kepada Maria bukan hanya ada dan muncul beberapa dekade terakhir ini, tetapi telah ada dan berurat akar dalam hati umat sejak berabad-abad silam. Bahkan ikon-ikon tentang Maria lebih popular daripada Yesus sendiri dalam beberapa parau waktu.
Dalam kerangka kisah ritual devosional seperti ini, momen pekan suci di kota Reinha Rosari Larantuka, menjadi saat-saat bagi saya menyaksikan dan turut berpartisipasi dalam rangkaian panjang devosi. Ada rasa bahagia yang muncul ketika bisa mengambil bagian dalam beberapa upacara devosional bersama ribuan umat Katolik. Tetapi muncul juga rasa heran dan tak percaya ketika menyaksikan ribuan umat yang berarakan hampir semalam suntuk hanya untuk mencium karpet yang mengalasi patung Tuan Ma (Bunda Maria) dan Tuan Ana (Tuhan Yesus). Refleksi ini saya rangkai dari aneka perasaan seperti ini yang terus bergejolak dalam diri saya serta berbagai aneka pengalaman lainnya selama live in di Pante besar. Karena itu, refleksi ini saya rangkai dalam tiga bagian, yakni situasi kebersamaan di rumah, Kegitan di Geraja, dan pengalaman mengikuti prosesi.
I. “Rumah Kami adalah Rumahmu Juga”
Apa yang dinamakan sebagai kegiatan live in, tidak lebih meupakan sebuah kegiatan liburan dimana kami bisa merasakan situasi umat dan turut serta mengambil bagian dalam keseharian situasi mereka. Live in berarti tinggal atau hidup bersama. Meskipun demikian selama beberapa hari berada di Pante besar hanya sedikit hal saja yan gsaya bisa rasakan dari penglama kebersamaan di rumah. Aneka kegiatan yang sesak dan padat memaksa saya untuk lebih banyak berada di luar rumah ketimbang mengambil bagian dalam kebersamaan di rumah. Tetapi dari waktu yang sedikit itu, saya memperoleh beberapa nilai yang saya kira amat perlu untuk ditimba ke depannya.
Pengalaman bersama keluarga tempat saya menginap dimulai ketika saya dijemput di Gereja oleh seorang Nenek yang telah lanjut usia. Setelah berjabatan tangan, berdua kami melewati lorong-lorong untuk sampai ke rumah. Saya sempat melontarkan beberapa pertanyaan basa-basi awal seperti, jauhkah rumah, ada beberapa orang di rumah, atau kok, mesti nenek sendiri yan gpergi jemput. Tetapi pertanyaan-pertanyaan saya hanya dijawab dengan seulas senyuman lansianya. Kesan awal ini membuat saya ‘kikuk’. Ternyata jarak dari Gereja ke rumah hanya sekitar 200 meter. Ketika memasuki rumah, si Nenek akhirnya mengucapkan sesuatu; “Frater, ini rumah kami, mulai sekarang rumah kami, frater punya rumah juga”. Seketika itu juga rasa ‘kikuk’ pun hilang.
Dari dalam rumah keluar dua orang anak laki-laki kecil, sambil tersenyum malu-malu mereka mengulurkan tangan dan sepintasa langsung mencium tangan saya. Ini Kebiasaan yang tidak saya jumpai dalam keluargaku. Tanpa sayas duga, pertanyaan yang mereka lontarakn kepada saya adalah apakah saya bisa main PS (play station). Selanjutnya, bisa ditebak saya makin akrab dengan mereka karena play station ini. Dari ruang tengah sepasang pasutri muncul dan lamgsung bersalaman dengan saya. Mereka langsung menunjukkan sebuah kamar yang telah dipersiapkan secara khusus. Setelah menaruh tas, saya pun mulai memperkenalkan identitas saya mulai dari nama, asal dan sebagainya.
Meskipun tinggal hanya tiga hari minus kegiatan-kegiatan di luar rumah, ada banyak hal yang bisa saya petik dari kebersamaan di rumah. Pertama, hal unik yang saya jumpai dalam rumah ini kehidupan spiritual yang berbeda-beda. Nenek dengan berbagai macam praktik dovosionalnya yang khusuk. Rosario kalau bukan di leher berarti ada di tangan. Suatu senja ia menceritakan keapada saya pengalaman imannya karena dekat dengan Bunda Maria. Pada waktu itu saya juga melontarkan pertanyaan, mengapa orang flores timur suka sekali devosi. Jawaban yang saya dapatkan adalah, “kami orang Larantuka, sebelum agama masuk, Bunda Maria sudah datang terlebih dahulu”.
Berbeda sekali dengan Bapak di rumah (anak dari nenek tadi). Beliau salah satu orang yang tidak tertarik dengan berbagai praktik devosional. Dengan terus terang ia berkata, “Frater sudah beberapa tahun tinggal di Larantuka ini, saya satu kali pun belum pernah mengikuti devosi. Tetapi Beliau seorang yang rajin mengikuti kegiatan di Gereja. Pada haru jumat agung beliau lebih suka jalan Salib di Gereja ketimbang mengikuti prosesi. Sedangkan spiritualitas yang ditunjukkan mama di rumah lebih merupakan penggabungan antara keduanya. Begitu pula dengan anak-anak, satunya sangat rajin ke Gereja sedangkan yan glainnya sangat malas dan lebih suka menonton TV serta main Play Station.
Di sini dipacu untuk mengkritisi mana yang bisa dipertanggungjawabkan. Praktik devosional dan mengesampingkan upacara liturgi resmi di gereja, atau ke gereja ketimbang mengikuti berbagai ritual devosional. Petanyaan ini tentunya menjadi PR buat saya karena tentu angsung berkaitan dengan problem teologis da liturgis.
Kedua, dalam hal makan minum. Semua makan minum tersedia selalu 24 jam. Kebiasaan untuk makan bersama jarang sekali. Kedua orang yang bekerja sibuk bekerja dan harus pulang makan dalam waktu yang berbeda. Waktu makan mereka bisa terjadi setiap saat. Siapa yang lapar datang makan. Ini tentunya berbeda dengan situasi di unit, yang selalu makan bersama secara komunal. Saya tidak mungkni mengajak mereka untuk berubah karena situasi di rumah memang harus demikian, tetapi saya juga bisa menimba hal baru. Pola hidup seperti ini mengingatkanku pada pola hidup komunitas-komunitas karya yang anggotanya selalu sibuk setiap saat. Sampai akhirnya, saya berpikir pola seperti ini toh ada gunanya juga jika saya tinggal di komunitas karya kelak.
Ketiga, cara mendidik anak dengan penuh persahabatan. Baru di rumah ini, saya melihat ada anak kecil yang memarahi orang tuanya dan yang dimarah terus memintamaaf kepada anaknya. Ini kebiasan yang baru yang baru saya temukan. Tentu, ini menjadi pelajaran berarti bagi saya dalam menghadapi anak-anak. Keempat, cinta akan kebersihan dan keindahan. Rumah dan pekarangan di sekitarnya diatur sangat rapih dan indah. Berbagai jenis bunga ditanam dan disusun bertingkat-tingkat. Kecintaan dan ketelatenan merawat dan menjaga kebersihan meninggalkan pesan khusus dalam benak saya, “kalau pulang ke unit, ingat jaga kebersihan kamar dan lingkungan sekitarnya”.
II. Kegiatan Di Gereja
Umat di stai Pante Besar mempunyai kebiasaan menyebut, kapela stasi dengan gereja. Mungkni hampir semua umat di Larantuka. Kata kapela hanya digunakan untuk penyimpanan patung seperti kapela Tuan Ma, tuan Ana, kapela patung Misericordiae, dll. Sedangkan yang biasa digunakan untuk misa hari minggu dan hari-hari lainnya disebut Gereja. Demikian definisi baru yang saya temukan ketika bertanya kepada nenek di rumah, tempat saya menginap.
Hanya dua kegitan di gereja yang saya ikut, yakni misa pada malam kami putih, dan misa cium salib pada hari Jumat Agung. Mestinya ada ibadat jalan salib pada pagi harinya, tetapi saya lebih memilih untuk ke pelabuhanmenyaksikan prosesi perarakan Tuan Menino di laut. Hal yang sedikit membuat kami bangga adalah kehadiran kami di gereja yang selalu ditunggu-tunggu umat. Mungkin umat di sini belum teriasa dengan kehadiran para Frater dalam jumlah banyak. Karenaitu, pada malam kamis Putis uma tbegitu banyak yan ghadir. Menurut salah satu umat, kehadiran umat yang sangat banyak itu karena memang mereka ingin mendengar para frater bernyanyi dengan memakai jubah. Setidaknya saya bisa sadar bahwa ternyata, di tengah perkembangna jaman, umat masih merindukan kehadiran kaum religus di tengah-tengah mereka meskipun hanya dalam hal sederhana seperti ini.
Hal lain yang bisa saya timba adalah bagaiman harus tampil di hadapan umat. Pada malam Kamis puti para Frater membawakan kor. Ini tentu bukan hal yang mudah apalagi pada perayaan kamis putih yang sebagaian lagu dinyanyikan tanpa musik. Tetapi syukurlah kami bisa bernyanyi dengan baik. Terdengar pujian-pujian yang dilontarkan kepada kami membuat para frater tersipu-sipu. Berada di tengah umat harus tampil dengan semaksimal mungkin supaya citra seorang frater tidak ikut buruk hanya karena bernyanyi buruk. Sebisa mungkni dalam setiap kesempatan hadir bersama umat, terlebih dahulu harus mempersiapkan diri secara matang.
Mengikuti misa hari Jumat Agung membuat saya mengerutkan dahi lantaran bertanya dimana semua umat yang pada malam tadi berlimpah ruah mengikuti perayaan ekaristi. Ternyata umat yang lain lebih suka tunggu di kapela Misericordia untuk perarakan patung ke Armida. Banyak pula yang pulan gduluan sebelum perayaan selesai, padahal Jumat Agung adalah perayaan puncak liturgi Kristiani.
Secara umum situasi yang Nampak dalam dua perayaan di atas adalah persaudaraan dan cinta. Malam Kamis Putih adalah malam persaudaraan. Di dalamnya ada persatuan dan cinta kasih. Begitu pula dengan perayaan pada Jumat Agung, Cinta kasih Tuhan yang tak terhingga, sampai-sampai menyerahkan nyawa-Nya di kayu salib menyentil animo kesadaranku untuk melangkah maju meninggalkan cara hidup lama.
III. “Ovos Omnes Qui Tramsitis Per Viam”
Ada beberapa upacara (doa dan prosesi) yang harus kami ikuti di upacara liturgi Gereja. Ada dua perasaan yang muncul ketika hendak mengikuti serangkaian kegiatan prosesi ini. Pertama, rasa ingin tahu yang ada dalam diri saya karena ini merupakan pengalman pertama mengikuti prosesi di Larantuka. Kedua, ini adalah sebuah siarah roani bagi saya di sela-sela Liburan pasakah. Karena itu dua hal ini terus bercokol dalam benak saya dalam mengikuti serangkaian kegiatan ini, antara rasa ingin tahu dan ziarah rohani pribadi.
a. Rabu Trewa
Pada hari rabu malam, semua umat di sekitar Pante Besar berkumpul di kapela Missericordia. Mala mini adalah rabu trewa yang artinya Rabu berkabung. Umat akan menyanyikan lagu-lau yang biasa dibawakan pada saat lamentasi. Lagu-lagi diamil dari kiab ratapan 1: 6-9, 10-12 tentang kesunyian dan reruntuhan Yerusalem dan Bab 2:13-14 tentang Murka Allah terhadap Sion. Setelah acara selesai terdengar bunyia-bunyian dan suasana rebut gaduh. Orang akan berteriak “trewa” berulang-ulang selama sepuluh menit. Ini sengaja diciptakan mengingat suasana kegaduhan pada waktu prajurit dan serdadu menangkap Yesus. Dan suasana akan kembali sunyi setelah kegaduhan. Sebelum pulang kerumah saya berkesempatan mencium patung missericordia.
b. Cium Patung Tuan Ana dan Tuan Ma
Setelah misa kamis malam, semua umat diberi kesempatan untuk mencium patung Tuan Ma dan Tuan Ana. Banyak umat yang datagn rposesi membuat saya lebih memilih untuk mencium patung esok paginya. Karena itu sekitas pukul 04.30, kami keluar dari rumah menuju kapela Tuan Ma. Lumayan atrian sudah tidak terlalu panjang lagi, kira-kira 200 meter. Tetapi untuk sampai ke kapela Tuan Ma saya harus menunggu tiga jam lamanya. Sampai di depan kapela semua orang berlutut dan perlahan-lahan maju ke dalam. Kami, hanya bisa mencium karpet yang mengalasi patung Tuan Ma. Saya tidak sempat mencium peti Tuan Ana, perut sudah mulai lapar dan kecapaian.
c. Prosesi Patung Tuan Menino
Prosesi ini dimulai pada hari Jumat pukul 11.00. Saya memang berkeinginan besar untuk mengikuti prosesi ini, tetapi ketika melihat padatnya, kondisi kapal serta gelombang, akhirnya saya ambil keputusan untuk menunggu saja di Pelabuhan lalu ke armida Tuan Menino, tempat patung itu ditahktakan.
d. Prosesi Patung Missericordia
Setelah pulang dari gereja kami semua langsung menuju ke kapela Missericordia. Ada perarakan patung missericordia ke Armida. Prosesi dimulai tepal pukul 16.00 sore dan berakhir kira-kira satu jam setelahnya.
e. Prosesi Tuan Ma dan Tuan Ana
Ini terjadi pada Jumat malam. Dua patung ini diarahkan. Saat in saya baru menyaksikan banyak umat yan gdatang mengikuti prosesi ini. Saya sendiri hanya mampu mengikutinya sampai ke armada ketiga. Saya terpaksa pulagn karena membawa seorang adik kecil yang sudah mengantuk. Prosesi ini harus melewati beberapa delapan armada sebelum masuk kembali ke gereja Katedral. Di setiap Armida, seorang perempuan yang dipilih secara khusus akan menyanyikan lagu “ Ovos Omnes Qui Transitis Per Viam, etendite et videte si est dolor, sicut dolor meus (wahai kamu sekalian yang melintasi jalan ini, pandanglah dan lihatlah, adakah kau lihat kesedihan, seperti kesedihan yang Kualami)”.
Ada beberapa hal positif yang bisa saya petik dari rangkaian kegiatan prosesi di atas. Pertama, devosi menumbuhkan iman. Iman umat Larantuka hanya tetap hidup selama ratusan tahun ketika ditinggal pergi oleh para misionaris dominikan samapi kedatangan para misionaris Yesuit. Kegiatan prosesi seperti ini membuat mereka bertahan dalam iman. Untuk konteks kita sekarang, praktik devosional bisa mengisi kekeringan iman kita. Kedua, Praktik dovosional seperti ini menunjukkan segi keunikan sekaligus kekayaan iman iman kita. Hal ini serentak menyadarkan saya untuk beriman secara kreatif dan tidak monoton lebih khusus dalam menapaki panggilan hidup saya. Ketiga, Peleburan antara tradisi dan gereja. Di sini ada sisi inkulturatifnya. Prosesi di larantuka merupakan contoh konkrot perpaduan ajaran iman gerja dan tradisi (adat-istiadat) umat Larantuka.
Meskipun demikian, ada beberapa hal yang perlu dikritisi dari kegiatan prosesi ini. Pertama, banyak orang yang datang hanya bisa menjadi penonton. Hal ini mungkin disebabkan karena rasa ingin tahu seperti melihat patung, dll. Mungkin juga pemahamn yan gkurang terhadap setiap arti ritual yang dijalankan. Sebagian lagi ada juga yan ghanya “ikut ramai” tanpa mengikutinya dnegna sungguh-sungguh. Kedua, Ada bahaya pentuhanan Maria. Maria bahkan disembah dan dipuja layaknya Yesus Kristus. Lebih Ironis ketika menyaksikan rute penciuman patung. Semua orang pasti akan ke Tuan Ma (Maria) terlebih dahulu baru kemudian ke Tuan Ana (Yesus). Jarang dilakukan sebaliknya. Ini memang hal sepele tetapi merupakan bukti nyata bahwa umat lebih menomorsatukan Maria ketimbang Tuhan Yesus. Ketiga, Umat lebih mengutamakan kegiatan prosesi dan semcamnya ketimbang mengikuti upacara liturgi di gereja. Beberapa hal ini memacu saya untuk lebih kritis terhadap setiap praktik keagamaan.
Nitapleat, Media April 2010
বুধবার, ৫ মে, ২০১০
Persiapan Liburan dan Keinginan Untuk Berubah (22-28 Maret ’10)
Hari-hari belakangan ini menjadi saat paling sibuk bagi kami, secara khusus tingkat III wisma Arnoldus. Ini minggu terakhir persiapan kami menuju Acara live ini nanti. Di unit kami sangat sibuk latihan kor dan menyiapkan segala sesuatu untuk acara prosesi di Larantuka. Latihan nyanyi dilakukan bergantian. Siang hari untuk tanggungan kelas tiga secara keseluruhan di Lembata nanti dan malam harinya untuk tanggungan unit di Larantuka.
Selain itu beberap teman kelas III juga sibuk menyiapkan renungan dan iadat malam paskah dan hari minggu paskah di salah satu paroki di Adonara. Kami juga melakaukan persiapan fisik maupun alat-alar unruk menanam pohon bakau di waturia yang berjumlah ribuan. Terus terang semua ini harus mantap dalam minggu ini. Tanpa kompromi. Setiap orang akan pesisimis jika suatu kegiatan tidak didahului dengan persiapan yang matang.
Dalam minggu ini juga ada pertandingan melawan unit Gabriel. Pertandingan ini berakhir dengan kemengan di tim kami (6-1). Saya sendiri menyumbangkan satu gol. Kami semua sangat menikmari pertandingan ini. Teman Atel memborong tiga gol. Dengan ini kami mengawali kompetisi Ledalero cup dengan hasil yang memuaskan. Kalau orang berkata langkah awal akan ementukan keberhasilan, mungkin inilah opimeise kami. Setelah sebelumnya berhasil menjuarai pesta family 2009, kali ini kami jua mempunyai obsesi yang sama yakni menjuarai kompetisi ini.
Mekipun demikian, kami bermain bukanlah tanpa perlawanan. Banyak kesulitan dan ancaman yang kami dapatkan dari tim lawan. Banyak peluanmg yang mereka ciptakan. Tetapi mereka sungguh mempunyai kesulitan dalam mencetak gol. Hal ini yang kami manfaatkan. Teman Atel, mesin gol di tim kami sungguh memanfaatkan semu apeluang yan gkami ciptakan. Alhasil kami bisa mencetak sebanyak enam gol pada pertandingan ini.
Maret sudah tiba di penghujungnya. Sementara banyak program hidup pribadi maupun unit yang belum dijalankan. Sia-sia say amenempel besar-besar program di depan meja belajar dengan lebel “must be done”. Semuanya tidak ada hasilnya. Lebih rumit lagi, banyak program unit yang dipending. Alasannya byank waktu terisi dengan kegiatna lain. Kegiatan yang ditunda itu seperti Diskusi unit, rekreasi bulanan di unit. In semua karena program dadakna yan gditurunkan dari komunitas atau pun sekolah. Mudah-mudahan beberapa kegiatan yan gtertunda bisa dijalankan lagi ke depannya.
Tugas-tugasku banyak yang belum diselesaikan. Komitmen untuk berubah semester ini rupanya sangat sulit. Saya selalu jatuh dalam kelalaian yang sama. Tidak tahu begaimana cara yang dapat kulakukan untuk menghilangkan kebiasaan burukku ini. PHP sudah dibuat, begitu pula dengan program kerja. Tetapi hasilnya nihil. Semuanya tidak berubah. Meskipun demikian masih ada sejuta optimism dalam diri saya akan perubahan ini. Ruapanya ada satu hal khusus yang ebuat saya tetap betahan dengan kenyataan yang ada. Jika saya sanggup melakukan hal itu, pasti segala sesuatu akan beres adanya. Mudah-mudahan niat baikku ini dapat aku wujudkan.
Selain itu beberap teman kelas III juga sibuk menyiapkan renungan dan iadat malam paskah dan hari minggu paskah di salah satu paroki di Adonara. Kami juga melakaukan persiapan fisik maupun alat-alar unruk menanam pohon bakau di waturia yang berjumlah ribuan. Terus terang semua ini harus mantap dalam minggu ini. Tanpa kompromi. Setiap orang akan pesisimis jika suatu kegiatan tidak didahului dengan persiapan yang matang.
Dalam minggu ini juga ada pertandingan melawan unit Gabriel. Pertandingan ini berakhir dengan kemengan di tim kami (6-1). Saya sendiri menyumbangkan satu gol. Kami semua sangat menikmari pertandingan ini. Teman Atel memborong tiga gol. Dengan ini kami mengawali kompetisi Ledalero cup dengan hasil yang memuaskan. Kalau orang berkata langkah awal akan ementukan keberhasilan, mungkin inilah opimeise kami. Setelah sebelumnya berhasil menjuarai pesta family 2009, kali ini kami jua mempunyai obsesi yang sama yakni menjuarai kompetisi ini.
Mekipun demikian, kami bermain bukanlah tanpa perlawanan. Banyak kesulitan dan ancaman yang kami dapatkan dari tim lawan. Banyak peluanmg yang mereka ciptakan. Tetapi mereka sungguh mempunyai kesulitan dalam mencetak gol. Hal ini yang kami manfaatkan. Teman Atel, mesin gol di tim kami sungguh memanfaatkan semu apeluang yan gkami ciptakan. Alhasil kami bisa mencetak sebanyak enam gol pada pertandingan ini.
Maret sudah tiba di penghujungnya. Sementara banyak program hidup pribadi maupun unit yang belum dijalankan. Sia-sia say amenempel besar-besar program di depan meja belajar dengan lebel “must be done”. Semuanya tidak ada hasilnya. Lebih rumit lagi, banyak program unit yang dipending. Alasannya byank waktu terisi dengan kegiatna lain. Kegiatan yang ditunda itu seperti Diskusi unit, rekreasi bulanan di unit. In semua karena program dadakna yan gditurunkan dari komunitas atau pun sekolah. Mudah-mudahan beberapa kegiatan yan gtertunda bisa dijalankan lagi ke depannya.
Tugas-tugasku banyak yang belum diselesaikan. Komitmen untuk berubah semester ini rupanya sangat sulit. Saya selalu jatuh dalam kelalaian yang sama. Tidak tahu begaimana cara yang dapat kulakukan untuk menghilangkan kebiasaan burukku ini. PHP sudah dibuat, begitu pula dengan program kerja. Tetapi hasilnya nihil. Semuanya tidak berubah. Meskipun demikian masih ada sejuta optimism dalam diri saya akan perubahan ini. Ruapanya ada satu hal khusus yang ebuat saya tetap betahan dengan kenyataan yang ada. Jika saya sanggup melakukan hal itu, pasti segala sesuatu akan beres adanya. Mudah-mudahan niat baikku ini dapat aku wujudkan.
Apakah Alam Enggan Bersahabat Lagi? (15-21 Maret ’10)
Aku terpanah manarap awan
Begitu derka seolah-lah mearapat
Dunia kian sesak
Ruang maikn sempit
Tidak ada kelonggaran
Tidak ada kebebasan
Hajn tak lama datang
Mengingatkanku bahwa ini kejadian alamiah
Tak perlu dicemaskan
Tak perlu dikhawatirkan
Tak lama kemudian, kilat mulai terlihat
Apakah ini pertemuan kutub negative dan positif bumi
Aku tak tahu
Bunyi Guntur pum bersusulan
Suasana kian gaduh
Apa lagi yang tak harus kita cemaskan?
Semua orang muli berpindah tempat
Mencari perlindungan
Desas-desus aku mendengat bahwa badai akan datang
Semua orang terlihat panik
Dan kau hanya bisa bertanya
Apakah lama tak bersahabat lagi dengan penghuninya
Ataukah ini situasi kita
Keserakahan kita
Dosa-dosa dan ketamakan kita.
Entahlah, hanya kita sendiri yang tahu.
Begitu derka seolah-lah mearapat
Dunia kian sesak
Ruang maikn sempit
Tidak ada kelonggaran
Tidak ada kebebasan
Hajn tak lama datang
Mengingatkanku bahwa ini kejadian alamiah
Tak perlu dicemaskan
Tak perlu dikhawatirkan
Tak lama kemudian, kilat mulai terlihat
Apakah ini pertemuan kutub negative dan positif bumi
Aku tak tahu
Bunyi Guntur pum bersusulan
Suasana kian gaduh
Apa lagi yang tak harus kita cemaskan?
Semua orang muli berpindah tempat
Mencari perlindungan
Desas-desus aku mendengat bahwa badai akan datang
Semua orang terlihat panik
Dan kau hanya bisa bertanya
Apakah lama tak bersahabat lagi dengan penghuninya
Ataukah ini situasi kita
Keserakahan kita
Dosa-dosa dan ketamakan kita.
Entahlah, hanya kita sendiri yang tahu.
Terkenang Masa Kecilku (8-14 Maret’ 10)
“Teringat masa kecillku,
Kau peluk dan kau manja
Indahnya saat itu
Buatku melambung ,
Di sisimu teringiang
Hangat napas segar harum tubuhmu
Kau ucapkan segala
Mimpi-mimpi serta harapanku (ada Band)”
Ketika aku berumur tujuh tahun, aku pernah merasakan kegelisahan yang amat mendalam tetanga seseorang. Malam itu kira-kira pukul 07.00 malam. Sudah dua kali mama bertanya kepada saya, “di mana bapakmu?”. AKu jawab dengan polos, “oh yah tadi ada ke kebun, katanya mau pindahkan air ke sawah kita”. Tak lama kemudian mama datang dan bertanya, “kemana bapakmu pergi tadi sore?” Aku yang sedang asyik bermain lidi-lidi berhitung tidak menghiraukan kata-kata mamaku. Sampai suatu ketika aku merasa haus dan ingin minum air. Di cerek ada air minum, tidak terlalu panas, tetapi juga tidak terlalu dingin, suam-suam kuku. Aku mengambik sebuah gelas kaca, dan betapa kagetnya aku ketika menuangkan air dalam gelas itu, serentak gelas pun retak dan pecah seketika.
Ibuku menolek kaget ke arah ku dan bertanya,” de kenapa itu?” Aku tak bisa menjawab sementara ibu mulai mendekat ke arahku. Ia mencucuhkan jarinya ke dalam cerek air. Dan dengan muka sedikit pucat ia memerintah , “cepat cari bapakmu, ajak dengan paman, lihat di kebun belakang”. Tiga puluh menit kemudian Bapak moncul dari arah depan rumah. Semua kami kesal. Ramailah rumah kami karena omelan mama. Saya lihat bapak hanya bisa duduk diam, tanpa berkata satu kalimat pun.
Rumah kami akan sangat ramai kalau ada mama. Dia orangnya lepas dan banyak omong. Kalau ada dia di rumah pasti jadinya semacam acara talk show. Kami semua suka padanya, kami semua sayang padanya. Tetapi jika ia marah, malah petaka datang. Langit seolah-olah runtuh. Kadang berteriak, kadang menangis. Dari bapakku sampai adikku yang keci hanya bisa diam seribu bahasa.
Yang aku wariskan dari bapakku adalah ciri-ciri fisik. Aku adalah gambaran bapakku waktu muda. Sudah banyak kali bahkan hampir bosan mendengar komentar dari orang bahwa aku sangat mirip dengan bapakku. Pembawaan juga sama persis tidak banyak bicara dan lebih tenang. Bakat musik yang ada padaku tentu diwariskan dari bapak. Beliau adalah seorang pemaih band tradisional. Group bandnya amat terkenal di kampungku. Jika bertanya pada orang tua mereka pasti mengenal gruop band Dau Dole, dengan kelima personil pujaan mereka. Tentu bapak juga salah satu di anataranya. Tetapi saya tidak pernah mendengar satu kata pun dari bapak saya tentang pengalaman manggungnya di hadapan orang lain. Dia seorang yang tidak suka menceritakan kegemilangannya. Cerita atau kisah tenrangnya saya dengar dari orang-orang lain bukan dari mulutnya sendiri.
Dengan mama saya bedanya seperti langit dan bumi. Satu hal yang saya wariskan dari mama saya adalah kemampuan dan keterampilan dalam menggunting rambut. Di rumah mama saya yang menjadi penggunting semua rambut anggota keluarga kami. Dia sangat terampil dan mempunyai jiwa seni yang alami. Tetapi saya sangat dekat dengannya. Dia sungguh-sungguh seorang ibu, yang tiada tandingnya. Air matanya adalah senjata ajaib yang membuat kami merasa bersalah terhadap kesalahan-kesalahan yang kami lakukan. Aku yakin di luar dari rumahku akau tidak akan menemukan orang yang melebihi ibuku. Kami semua sangat menyayanginya.
Kau peluk dan kau manja
Indahnya saat itu
Buatku melambung ,
Di sisimu teringiang
Hangat napas segar harum tubuhmu
Kau ucapkan segala
Mimpi-mimpi serta harapanku (ada Band)”
Ketika aku berumur tujuh tahun, aku pernah merasakan kegelisahan yang amat mendalam tetanga seseorang. Malam itu kira-kira pukul 07.00 malam. Sudah dua kali mama bertanya kepada saya, “di mana bapakmu?”. AKu jawab dengan polos, “oh yah tadi ada ke kebun, katanya mau pindahkan air ke sawah kita”. Tak lama kemudian mama datang dan bertanya, “kemana bapakmu pergi tadi sore?” Aku yang sedang asyik bermain lidi-lidi berhitung tidak menghiraukan kata-kata mamaku. Sampai suatu ketika aku merasa haus dan ingin minum air. Di cerek ada air minum, tidak terlalu panas, tetapi juga tidak terlalu dingin, suam-suam kuku. Aku mengambik sebuah gelas kaca, dan betapa kagetnya aku ketika menuangkan air dalam gelas itu, serentak gelas pun retak dan pecah seketika.
Ibuku menolek kaget ke arah ku dan bertanya,” de kenapa itu?” Aku tak bisa menjawab sementara ibu mulai mendekat ke arahku. Ia mencucuhkan jarinya ke dalam cerek air. Dan dengan muka sedikit pucat ia memerintah , “cepat cari bapakmu, ajak dengan paman, lihat di kebun belakang”. Tiga puluh menit kemudian Bapak moncul dari arah depan rumah. Semua kami kesal. Ramailah rumah kami karena omelan mama. Saya lihat bapak hanya bisa duduk diam, tanpa berkata satu kalimat pun.
Rumah kami akan sangat ramai kalau ada mama. Dia orangnya lepas dan banyak omong. Kalau ada dia di rumah pasti jadinya semacam acara talk show. Kami semua suka padanya, kami semua sayang padanya. Tetapi jika ia marah, malah petaka datang. Langit seolah-olah runtuh. Kadang berteriak, kadang menangis. Dari bapakku sampai adikku yang keci hanya bisa diam seribu bahasa.
Yang aku wariskan dari bapakku adalah ciri-ciri fisik. Aku adalah gambaran bapakku waktu muda. Sudah banyak kali bahkan hampir bosan mendengar komentar dari orang bahwa aku sangat mirip dengan bapakku. Pembawaan juga sama persis tidak banyak bicara dan lebih tenang. Bakat musik yang ada padaku tentu diwariskan dari bapak. Beliau adalah seorang pemaih band tradisional. Group bandnya amat terkenal di kampungku. Jika bertanya pada orang tua mereka pasti mengenal gruop band Dau Dole, dengan kelima personil pujaan mereka. Tentu bapak juga salah satu di anataranya. Tetapi saya tidak pernah mendengar satu kata pun dari bapak saya tentang pengalaman manggungnya di hadapan orang lain. Dia seorang yang tidak suka menceritakan kegemilangannya. Cerita atau kisah tenrangnya saya dengar dari orang-orang lain bukan dari mulutnya sendiri.
Dengan mama saya bedanya seperti langit dan bumi. Satu hal yang saya wariskan dari mama saya adalah kemampuan dan keterampilan dalam menggunting rambut. Di rumah mama saya yang menjadi penggunting semua rambut anggota keluarga kami. Dia sangat terampil dan mempunyai jiwa seni yang alami. Tetapi saya sangat dekat dengannya. Dia sungguh-sungguh seorang ibu, yang tiada tandingnya. Air matanya adalah senjata ajaib yang membuat kami merasa bersalah terhadap kesalahan-kesalahan yang kami lakukan. Aku yakin di luar dari rumahku akau tidak akan menemukan orang yang melebihi ibuku. Kami semua sangat menyayanginya.
Gadis Misterius (1-7 Maret ’10
Baru kali ini aku bertemu dengan sesorang yang amat unik. Ia pribadi dengan multi persona. Ada saat dimana ia bahagia, senang, tertawa, tetapi seketika itu pula ia bisa menjadi orang yang galak, emosional, dan mudah sekali tersinggung. Aku tak mengerti bahkan tak tahu harus berbuat apa berhadapan dengan sikapnya seperrti ini. Yang pasti saat ini aku sedang bertemu dengan seorang anak kecil yang telah dewasa. Menghadapinya aku hanya bisa bertahan dengan sejuta rasa sabar.
Aku belum pernah bertemu dia sebelumnya. Jia aku telah mengenalnya, itu hanya samar-samar, sangat maya. Perkenalan yang la kadar ini menyeret aku dalam rasa yang serba tidak menentu. Aku tersentak kaget Karena aka terlalu jauh melangka dan terperangkap dalam jurang yang sulit membawaku keluar. Aku benci sejaligus menikmati sensasi gila ini. Kadang aku berpikir untuk cepat-cepat pergi, tetapi kadang juga aku berencana untuk selamanya bertahan.
Apa yang aku ceritakan kepada semua orang akan apa yang aku rasakan ini? Tentu tidak, semua orang akan menertawakan aku. Semua orang akan mengatakan bahwa aku sekarang jadi aneh. Tetapi kepada ibuku aku tak bisa untuk tidak berkata-kata tentang itu. Jika tidak demikian, di hadapannya aku akan menjadi seorang penipu. Hanya ibu yang tahu segala sesuatu yang aku rasakan. Ia bahkan bisa merasakan apa yang kurasa. Jadi, percuma saja untuk bersembunyi darinya.
“Ade kamu sedang jatuh cinta”, demikian kata-katanya setelah aku bercerita kepadanya pada suatu ketika. “Tidak mungkin ma!” Aku berusaha mengelak. Ia tidak peduli lalu lanjut bertanya, “siapa gerangan perempuan itu yang bisa meluluhkan hati anakku?” Aku malu lalu berkata, “Ia hanya suara dari seberang ma!” Oh aku ibu peduli apakah dia hanya suara, bunyi-bunyian, atau kata-kata sekalian, katakan kepadaku siapakah dia?”
“Dia hanya seorang anak kecil ma, aku bahkan tak mengerti untuk menjelaskan siapa dia sebenarnya, terlalu sulit”. Kataku sambi menunduk. “Yah tapi ibu tak menangkap maksudmu, itu tidak akan menjelaskan bahwa engkau mencintai seorang yang infantil?” Katanya ingin tahu. Aku hanya menjawab: “tidak ma”. Itu juga tidak akan menjelaskan engkau mencintai seorang anak kecil yang polos kan” Katanya lanjut. Aku hanya bisa menjawab lagi: “tidak ma”.
Sambil menatap ibuku yang makin gelisah dan tak mengerti, aku memeluknya dan mengatakan, “ma aku mencintai suara. Suara itu mirip sekali dengan suaramu”. Suasana hening menjeda, ibuku berkata, “Ade katakan kepada ibumu siapakah dia?” Aku akhirnya berani berkata:” dia seorang anak kecil yang sudah dewasa”. Ibuku pun legah dan berbisik:” baiklah intinya engkau sedang jatuh cinta, dan orang itu bukan anak kecil,…pergilah dan ceritakan kepadaku apa yang akan terjadi nanti”. Akhirnya aku hanya berkata, “thanks mom, pasti akan kuceritakan lagi kelak”.
Aku belum pernah bertemu dia sebelumnya. Jia aku telah mengenalnya, itu hanya samar-samar, sangat maya. Perkenalan yang la kadar ini menyeret aku dalam rasa yang serba tidak menentu. Aku tersentak kaget Karena aka terlalu jauh melangka dan terperangkap dalam jurang yang sulit membawaku keluar. Aku benci sejaligus menikmati sensasi gila ini. Kadang aku berpikir untuk cepat-cepat pergi, tetapi kadang juga aku berencana untuk selamanya bertahan.
Apa yang aku ceritakan kepada semua orang akan apa yang aku rasakan ini? Tentu tidak, semua orang akan menertawakan aku. Semua orang akan mengatakan bahwa aku sekarang jadi aneh. Tetapi kepada ibuku aku tak bisa untuk tidak berkata-kata tentang itu. Jika tidak demikian, di hadapannya aku akan menjadi seorang penipu. Hanya ibu yang tahu segala sesuatu yang aku rasakan. Ia bahkan bisa merasakan apa yang kurasa. Jadi, percuma saja untuk bersembunyi darinya.
“Ade kamu sedang jatuh cinta”, demikian kata-katanya setelah aku bercerita kepadanya pada suatu ketika. “Tidak mungkin ma!” Aku berusaha mengelak. Ia tidak peduli lalu lanjut bertanya, “siapa gerangan perempuan itu yang bisa meluluhkan hati anakku?” Aku malu lalu berkata, “Ia hanya suara dari seberang ma!” Oh aku ibu peduli apakah dia hanya suara, bunyi-bunyian, atau kata-kata sekalian, katakan kepadaku siapakah dia?”
“Dia hanya seorang anak kecil ma, aku bahkan tak mengerti untuk menjelaskan siapa dia sebenarnya, terlalu sulit”. Kataku sambi menunduk. “Yah tapi ibu tak menangkap maksudmu, itu tidak akan menjelaskan bahwa engkau mencintai seorang yang infantil?” Katanya ingin tahu. Aku hanya menjawab: “tidak ma”. Itu juga tidak akan menjelaskan engkau mencintai seorang anak kecil yang polos kan” Katanya lanjut. Aku hanya bisa menjawab lagi: “tidak ma”.
Sambil menatap ibuku yang makin gelisah dan tak mengerti, aku memeluknya dan mengatakan, “ma aku mencintai suara. Suara itu mirip sekali dengan suaramu”. Suasana hening menjeda, ibuku berkata, “Ade katakan kepada ibumu siapakah dia?” Aku akhirnya berani berkata:” dia seorang anak kecil yang sudah dewasa”. Ibuku pun legah dan berbisik:” baiklah intinya engkau sedang jatuh cinta, dan orang itu bukan anak kecil,…pergilah dan ceritakan kepadaku apa yang akan terjadi nanti”. Akhirnya aku hanya berkata, “thanks mom, pasti akan kuceritakan lagi kelak”.
বুধবার, ২৪ মার্চ, ২০১০
REROROJA DAN IMPIAN KE NEGERI PANDORA (Yang Tersisa dari Pengalaman Liburan) (22-28 Feb' 10)
"'Avatar will make people truly experience something"
(James Cameron)
Langit dan bumi adalah dua nama dari komponen jagat raya yang berbeda satu dengan yang lainnya. Yang satu menunjukkan ruang dimana bintang dan benda-benda langit lainnya berpijar. Sedangkan yang lain merujuk pada suatu tempat dimana manusia dan makhluk hidup lainnya berpijak. Dalam tradisi kepercayaan lokal keduanya bak dua pengantin raksasi yang menguasai jagat raya. Langit menjadi tempat bersemayam Sang penguasa dan bumi adalah rahim yang memberikan kesuburan dan kehidupan. Tanpa berpretensi mengulas perbedaan antara langit dan bumi secara terperinci dan komprehensif, saya terobsesi untuk melihat dan mengkonfrontasikan (meskipun sangat astrak) dengan pengalaman liburan kali ini. Ada dua hal menarik yang saya peroleh dari liburan, yakni pengalaman bekerja menanam pohon jarak di Reroroja-Magepanda dan penglaman menonton film Avatar karya Om James Cameron. Menanam ratusan pohon jarak di sebuah lereng bukit tentunya menyentil kesadaran saya untuk menjaga dan melestarikan bumi, tempat kita berpijak. Sedangkan menonton film Avatar membuat saya ingin segera terbang ke langit, menuju negeri Pandora bertemu para na’vi, menikmati keindahan alamnya yang elok sekaligus berjuang mencegah serangan dari pihak manusia yang ingin mengeksploitasi alamnya. Dua pengalaman ini bisa saya gambarkan dalam uraian di bawah ini.
******
Kegiatan di Reroroja Magepanda berlangsung selama dua hari, yakni pada hari Selasa (2/2) dan pada hari sabtu (6/2). Kronologi kegiatan dan apa saja yang kami lakukan selama dapat digambarkan sebagai berikut: Pertama, (Selasa (2/2). Setelah sarapan pagi di unit, kami langsung bergegas menuju Maumere. Tiba di Kantor Dian Desa (selanjutnya:DD) kira-kira pukul 08.00. Semua karyawan DD masih sibuk menyiapkan segala sesuatu yang harus dibawa ke Reroroja. Dengan gayanya yang unik dan ramah Bapak Petrus Swarman, direktur DD menerima kami sembari mengajak kami untuk sarapan pagi sebelum berangkat. Kami tidak bisa ikut sarapan karena sudah terlanjur sampaikan bahwa kami sudah sarapan pagi di unit. Perjalanan ke Reroroja ditempuh dalam waktu satu jam Karena pada pukul 09.30 kami sudah mulai bekerja.
Di bawah teriknya matahari, kami mesti menggali ratusan lubang dengan jumlah anggotanya hanya lima orang. Tetapi saya sungguh menikmati pekerjaan ini. Makan siang di kebun dengan makanan yang dibeli dari warung. Setelah makan siang ada pekerjaan lain lagi. Kali ini kami membantu karyawan DD, membuat sebuah tempat peristirahatan, persis di bawah dua pohon rimbun (setelah nonton film avatar saya membayangkan pohon ini seperti pohon kehidupan di negeri Pandora itu). Banyak karyawan Dian Desa yang dilibatkan karena pekerjaan cukup berat, yakni membuat sebuah fondasi dengan campuran semen setinggi 2 meter. Saya hanya bisa bayangkan betapa indahnya tempat ini ketika semua pohon jarak sudah tumbuh besar. Orang akan ramai berkunjung ke tempat ini. Sebelum melanjutkan pekerjaan menggali lubang, kami diajak oleh Om Ardi untuk melihat proyek penggalian sumur di pinggiran kampung Magepanda. Kami baru pulang sore harinya dan langsung diantar ke unit.
Kegiatan kami di Reroroja berlanjut ke hari Sabtu (6/2). Pekerjaan kami bukan lagi menggali atau membuat tempat peristirahatan yang baru, tetapi kali ini kami menanam ratusan pohon jarak. Kami semua berjumlah tujuh orang dengan pembagian; satu orang menyiram pupuk, satu orang meletakkan tempurung yang masih melekat dengan sabut kelapa di setiap lubang. Kami yang lainnya mendapat tugas untuk menanamnya. Panas matahari kali ini lebih dasyat lagi. Kami harus beristirahat beberapa kali. Seperti biasa makan siang di kebun. Kira-kira jam dua siang kami harus pulang karena sebagian karyawan harus menerima tamu baru datang dari Swiss dan Perancis. Sekitar jam setengah enam sore kami baru diantar ka’e Pius Herin ke unit.
******
Pengalaman lainnya adalah menikmati serunya film Avatar. Film ini diawali dengan latar belakang seorang veteran lumpuh bernama Jack Sully (tokoh protagonis di film ini) yang direkrut menjadi anggota tim AVATAR untuk mempelajari sebuah planet yang indah bernama Pandora hanya gara-gara ia adalah saudara kembar seorang ilmuwan yang tewas tertembak saat dirampok orang. Tak lama kemudian cerita berlanjut ke perjalanan ke planet Pandora yang indah dan masih alami. Pandora adalah sebuah nama yang diambil dari mitologi Yunani, sebuah patung buatan dewa Haphaestus yang kemudian berubah menjadi gadis cantik. Suku-suku yang tinggal di planet Pandora ini benar-benar menghargai keseimbangan ini. Tidak ada niat sama sekali untuk merusak alamnya. Bahkan yang lebih indah, mereka bersatu dengan berbagai jenis binatang yang ada di Pandora.
Di sisi itulah si Jack dan awak lain mendarat pertama kali di Pandora. Singkat kata, Jack menjadi anggota tim riset yang bernama AVATAR programs. AVATAR programs ini adalah program riset khusus terhadap kekayaan alam dan fenomena-fenomena di planet Pandora itu. Riset ini sungguh unik karena para ilmuwan dengan rekayasa genetik membuat mahluk "kosongan" (semacam robot biologis) yang disebut AVATAR yang mirip dengan bangsa Na'vi (bangsa asli planet Pandora). Makhluk ini bisa "dikendalikan" dengan melakukan koneksi dengan otak pengendalinya , yaitu para ilmuan termasuk saudara kembar Jack. Satu AVATAR dibuat khusus untuk satu pengendalinya. Dan uniknya, wajah AVATAR-AVATAR itu dibuat mirip dengan pengendalinya agar terjadi kesesuaian DNA. Karena saudara kembar Jack sudah tewas, maka hanya Jack yang bisa melakukan pengendalian atas AVATAR milik saudaranya itu. Hal itu karena struktur DNA Jack sama dengan saudara kembarnya.
Sejak menjadi pengendali AVATAR itu Jack mengalami petualangan-petualangan seru di hutan Pandora yang elok dan ganas. Dia juga bertemu dengan si Na'vi cantik tapi galak, Neytiri. Asmara yang aneh membumbui kisah antara si AVATAR-nya Jack Sully dan Neytiri ini. Kebersamaan membuat mereka jatuh cinta dan Jack mulai beradaptasi dan menyukai hidup seperti bangsa itu. Ia bahkan melupakan tugasnya semula sementara manusia punya rencana lain untuk menguasai Pandora lewat pasukan yang dilengkapi dengan persenjataan dan semacam kostum robot yang membuat mereka bisa bergerak di planet itu. Jack berusaha mencari jalan damai agar pengeksploitasian di negeri Pandora tidak terjadi. Tetapi semakin ia berusaha semakin kuat pula rencana manusia untuk menguasai Pandora. Negeri Pandora akhirnya diporak-porandakan oleh manusia hanya karena ingin mengeruk kekayaan alam yang ada di sana.
******
Pengalaman bekerja di kebun Reroroja memang sangat konkret dibandingkan pengalaman menonton film Avatar. Yang satu ada di dunia riil dan yang lainnya merupakan dunia imajinasi ciptaan James Cameron. Saya bisa terlibat langsung bekerja di kebun yang tentunya memberi banyak nilai dan masukan secara khusus tentang etika lingkungan hidup. Tetapi menonton film Avatar tak sekadar membuat dahi saya mengerut lantaran petualangan dramatis di negeri Pandora tetapi juga menyisipkan pesan moral yang amat kental, yakni bagaimana seharusnya manusia memperlakukan buminya, seperti halnya kaum Na''vi yang menjadikan negeri Pandora sebagai ranah yang harus terus dijaga dan dipelihara.
Dua pengalaman ini memang berbeda. Tetapi ada satu titik penghubung berupa pesan moral yang ada di baliknya, yakni soal kesadaran untuk menjaga dan melestarikan bumi kita. Menanam pohon di tengah padang yang gersang membangkitkan angan-angan saya tentang keadaan alam yang indah dan elok bak negeri Pandora-nya Avatar, tentang pohon suci kehidupan milik kaum Na’vi di atas lapisan langit serta keseimbangan alam lingkungannya. Sebaliknya menonton film Avatar menyentil animo kesadaranku untuk menjaga dan melestarikan bumi kita. Menyelamatkan bumi dari keserakahan manusia harus dimulai sekarang juga dan dengan lingkugan alam yang ada di sekitar kita. Dengan begitu negeri Pandora yang elok bukan hanya menjadi negeri imajinasi tetapi bisa kita saksikan dalam waktu yang akan datang. Janji Om James Cameron bahwa kita akan merasakan sesuatu setelah menonton Avatar (Avatar will make people truly experience something) sungguh benar terjadi. Sesuatu itu tidak lain adalah kesadaran untuk menyelamatkan bumi kita. (Rk)
(James Cameron)
Langit dan bumi adalah dua nama dari komponen jagat raya yang berbeda satu dengan yang lainnya. Yang satu menunjukkan ruang dimana bintang dan benda-benda langit lainnya berpijar. Sedangkan yang lain merujuk pada suatu tempat dimana manusia dan makhluk hidup lainnya berpijak. Dalam tradisi kepercayaan lokal keduanya bak dua pengantin raksasi yang menguasai jagat raya. Langit menjadi tempat bersemayam Sang penguasa dan bumi adalah rahim yang memberikan kesuburan dan kehidupan. Tanpa berpretensi mengulas perbedaan antara langit dan bumi secara terperinci dan komprehensif, saya terobsesi untuk melihat dan mengkonfrontasikan (meskipun sangat astrak) dengan pengalaman liburan kali ini. Ada dua hal menarik yang saya peroleh dari liburan, yakni pengalaman bekerja menanam pohon jarak di Reroroja-Magepanda dan penglaman menonton film Avatar karya Om James Cameron. Menanam ratusan pohon jarak di sebuah lereng bukit tentunya menyentil kesadaran saya untuk menjaga dan melestarikan bumi, tempat kita berpijak. Sedangkan menonton film Avatar membuat saya ingin segera terbang ke langit, menuju negeri Pandora bertemu para na’vi, menikmati keindahan alamnya yang elok sekaligus berjuang mencegah serangan dari pihak manusia yang ingin mengeksploitasi alamnya. Dua pengalaman ini bisa saya gambarkan dalam uraian di bawah ini.
******
Kegiatan di Reroroja Magepanda berlangsung selama dua hari, yakni pada hari Selasa (2/2) dan pada hari sabtu (6/2). Kronologi kegiatan dan apa saja yang kami lakukan selama dapat digambarkan sebagai berikut: Pertama, (Selasa (2/2). Setelah sarapan pagi di unit, kami langsung bergegas menuju Maumere. Tiba di Kantor Dian Desa (selanjutnya:DD) kira-kira pukul 08.00. Semua karyawan DD masih sibuk menyiapkan segala sesuatu yang harus dibawa ke Reroroja. Dengan gayanya yang unik dan ramah Bapak Petrus Swarman, direktur DD menerima kami sembari mengajak kami untuk sarapan pagi sebelum berangkat. Kami tidak bisa ikut sarapan karena sudah terlanjur sampaikan bahwa kami sudah sarapan pagi di unit. Perjalanan ke Reroroja ditempuh dalam waktu satu jam Karena pada pukul 09.30 kami sudah mulai bekerja.
Di bawah teriknya matahari, kami mesti menggali ratusan lubang dengan jumlah anggotanya hanya lima orang. Tetapi saya sungguh menikmati pekerjaan ini. Makan siang di kebun dengan makanan yang dibeli dari warung. Setelah makan siang ada pekerjaan lain lagi. Kali ini kami membantu karyawan DD, membuat sebuah tempat peristirahatan, persis di bawah dua pohon rimbun (setelah nonton film avatar saya membayangkan pohon ini seperti pohon kehidupan di negeri Pandora itu). Banyak karyawan Dian Desa yang dilibatkan karena pekerjaan cukup berat, yakni membuat sebuah fondasi dengan campuran semen setinggi 2 meter. Saya hanya bisa bayangkan betapa indahnya tempat ini ketika semua pohon jarak sudah tumbuh besar. Orang akan ramai berkunjung ke tempat ini. Sebelum melanjutkan pekerjaan menggali lubang, kami diajak oleh Om Ardi untuk melihat proyek penggalian sumur di pinggiran kampung Magepanda. Kami baru pulang sore harinya dan langsung diantar ke unit.
Kegiatan kami di Reroroja berlanjut ke hari Sabtu (6/2). Pekerjaan kami bukan lagi menggali atau membuat tempat peristirahatan yang baru, tetapi kali ini kami menanam ratusan pohon jarak. Kami semua berjumlah tujuh orang dengan pembagian; satu orang menyiram pupuk, satu orang meletakkan tempurung yang masih melekat dengan sabut kelapa di setiap lubang. Kami yang lainnya mendapat tugas untuk menanamnya. Panas matahari kali ini lebih dasyat lagi. Kami harus beristirahat beberapa kali. Seperti biasa makan siang di kebun. Kira-kira jam dua siang kami harus pulang karena sebagian karyawan harus menerima tamu baru datang dari Swiss dan Perancis. Sekitar jam setengah enam sore kami baru diantar ka’e Pius Herin ke unit.
******
Pengalaman lainnya adalah menikmati serunya film Avatar. Film ini diawali dengan latar belakang seorang veteran lumpuh bernama Jack Sully (tokoh protagonis di film ini) yang direkrut menjadi anggota tim AVATAR untuk mempelajari sebuah planet yang indah bernama Pandora hanya gara-gara ia adalah saudara kembar seorang ilmuwan yang tewas tertembak saat dirampok orang. Tak lama kemudian cerita berlanjut ke perjalanan ke planet Pandora yang indah dan masih alami. Pandora adalah sebuah nama yang diambil dari mitologi Yunani, sebuah patung buatan dewa Haphaestus yang kemudian berubah menjadi gadis cantik. Suku-suku yang tinggal di planet Pandora ini benar-benar menghargai keseimbangan ini. Tidak ada niat sama sekali untuk merusak alamnya. Bahkan yang lebih indah, mereka bersatu dengan berbagai jenis binatang yang ada di Pandora.
Di sisi itulah si Jack dan awak lain mendarat pertama kali di Pandora. Singkat kata, Jack menjadi anggota tim riset yang bernama AVATAR programs. AVATAR programs ini adalah program riset khusus terhadap kekayaan alam dan fenomena-fenomena di planet Pandora itu. Riset ini sungguh unik karena para ilmuwan dengan rekayasa genetik membuat mahluk "kosongan" (semacam robot biologis) yang disebut AVATAR yang mirip dengan bangsa Na'vi (bangsa asli planet Pandora). Makhluk ini bisa "dikendalikan" dengan melakukan koneksi dengan otak pengendalinya , yaitu para ilmuan termasuk saudara kembar Jack. Satu AVATAR dibuat khusus untuk satu pengendalinya. Dan uniknya, wajah AVATAR-AVATAR itu dibuat mirip dengan pengendalinya agar terjadi kesesuaian DNA. Karena saudara kembar Jack sudah tewas, maka hanya Jack yang bisa melakukan pengendalian atas AVATAR milik saudaranya itu. Hal itu karena struktur DNA Jack sama dengan saudara kembarnya.
Sejak menjadi pengendali AVATAR itu Jack mengalami petualangan-petualangan seru di hutan Pandora yang elok dan ganas. Dia juga bertemu dengan si Na'vi cantik tapi galak, Neytiri. Asmara yang aneh membumbui kisah antara si AVATAR-nya Jack Sully dan Neytiri ini. Kebersamaan membuat mereka jatuh cinta dan Jack mulai beradaptasi dan menyukai hidup seperti bangsa itu. Ia bahkan melupakan tugasnya semula sementara manusia punya rencana lain untuk menguasai Pandora lewat pasukan yang dilengkapi dengan persenjataan dan semacam kostum robot yang membuat mereka bisa bergerak di planet itu. Jack berusaha mencari jalan damai agar pengeksploitasian di negeri Pandora tidak terjadi. Tetapi semakin ia berusaha semakin kuat pula rencana manusia untuk menguasai Pandora. Negeri Pandora akhirnya diporak-porandakan oleh manusia hanya karena ingin mengeruk kekayaan alam yang ada di sana.
******
Pengalaman bekerja di kebun Reroroja memang sangat konkret dibandingkan pengalaman menonton film Avatar. Yang satu ada di dunia riil dan yang lainnya merupakan dunia imajinasi ciptaan James Cameron. Saya bisa terlibat langsung bekerja di kebun yang tentunya memberi banyak nilai dan masukan secara khusus tentang etika lingkungan hidup. Tetapi menonton film Avatar tak sekadar membuat dahi saya mengerut lantaran petualangan dramatis di negeri Pandora tetapi juga menyisipkan pesan moral yang amat kental, yakni bagaimana seharusnya manusia memperlakukan buminya, seperti halnya kaum Na''vi yang menjadikan negeri Pandora sebagai ranah yang harus terus dijaga dan dipelihara.
Dua pengalaman ini memang berbeda. Tetapi ada satu titik penghubung berupa pesan moral yang ada di baliknya, yakni soal kesadaran untuk menjaga dan melestarikan bumi kita. Menanam pohon di tengah padang yang gersang membangkitkan angan-angan saya tentang keadaan alam yang indah dan elok bak negeri Pandora-nya Avatar, tentang pohon suci kehidupan milik kaum Na’vi di atas lapisan langit serta keseimbangan alam lingkungannya. Sebaliknya menonton film Avatar menyentil animo kesadaranku untuk menjaga dan melestarikan bumi kita. Menyelamatkan bumi dari keserakahan manusia harus dimulai sekarang juga dan dengan lingkugan alam yang ada di sekitar kita. Dengan begitu negeri Pandora yang elok bukan hanya menjadi negeri imajinasi tetapi bisa kita saksikan dalam waktu yang akan datang. Janji Om James Cameron bahwa kita akan merasakan sesuatu setelah menonton Avatar (Avatar will make people truly experience something) sungguh benar terjadi. Sesuatu itu tidak lain adalah kesadaran untuk menyelamatkan bumi kita. (Rk)
Seloroh Panjang Untuk Virgin (15-21 Feb' 10)
Virgin Sahabatku…
Paras ayu dan senyum manismu
Mengegetarkan kalbu para adam
Hasrat mendamba tanpa kompromi
Kala senja menjemput malam
Ka uterus melangkah penuh ceria
Menapaki lorong-lorong nan sepi
Tak kau sadari mata liar membuntut
Tiba-tiba tangan kekar mencekal
Ongin menjerit tapi apalah daya
Kau pasrah dalam tangisan perih
Betapa rakusnya dia dalam kemolekanmu
Virgin,,… Itulah mahkota para gadis
Tapi, virgn sahabatku berduka
Kini meratap aib karena ternoda
Oleh lelaki biadab bersosok drakula
Maafkan aku virgin,
Tak menemani kala itu
Aku tahu kau merasa terpuruk
Tapi tegarlah, tatap masa depan
Bersamakita bisa merenda asa dan cita.
(Dari seorang sahabat)
Seorang gadis datang kepada mamanya dan bertanya, “ma,,,,berapa harga perawanku?” sang ibu berpikir sejenak lalu berkata; “tidak dijual saya”. Tidak puas dengan jawban iunya ia pergi ke ayahnya dan bertanya: “ pak…apakah perawanku sama mahalnya dengan emas dan gading?” Ayahnya hanya diam dan balik berkata kepaanya: “renungkalah apa arti perawan bagimu…itulah harganya”.
Seorang gadis datang mengatkan kepaa saya bahwa ia tidak perawan lagi. Ini ssuatu yang jarang dilakukan kaum perempuan yang notabene dikenal sebagai makhluk yang suka menyimapn rahasia pribadinya. Dngan sejuta kata maaf mengisahkan kepada saya. Tetapi entahkah aku mesti percaya semuanya itu? Kronologi ceritanya tidak runtut dan terkesan dibuat-buat. Yang aku bisa lakukan adalah menjadi pendengar yang setia. Sebenarnya aku tidak berharap ia akan cerita begitu kepadaku, meskipun aku tahu dari awalnya arah cerita akan sampai ke situ. Aku justru lebih berharap jika ia bertanya kepadaku apa arti perawan? Apakah perawan selalu diidentikan dengan yang suci? Mengapa ada stigma bahwa yang tidak perawan identik pula dengan yang tidak suci. Ahh…perempuan selalu saja jatuh dalam jurang ketidakadilan.
Hai virgin, bangun dan tataplah masa depan..!!!
Paras ayu dan senyum manismu
Mengegetarkan kalbu para adam
Hasrat mendamba tanpa kompromi
Kala senja menjemput malam
Ka uterus melangkah penuh ceria
Menapaki lorong-lorong nan sepi
Tak kau sadari mata liar membuntut
Tiba-tiba tangan kekar mencekal
Ongin menjerit tapi apalah daya
Kau pasrah dalam tangisan perih
Betapa rakusnya dia dalam kemolekanmu
Virgin,,… Itulah mahkota para gadis
Tapi, virgn sahabatku berduka
Kini meratap aib karena ternoda
Oleh lelaki biadab bersosok drakula
Maafkan aku virgin,
Tak menemani kala itu
Aku tahu kau merasa terpuruk
Tapi tegarlah, tatap masa depan
Bersamakita bisa merenda asa dan cita.
(Dari seorang sahabat)
Seorang gadis datang kepada mamanya dan bertanya, “ma,,,,berapa harga perawanku?” sang ibu berpikir sejenak lalu berkata; “tidak dijual saya”. Tidak puas dengan jawban iunya ia pergi ke ayahnya dan bertanya: “ pak…apakah perawanku sama mahalnya dengan emas dan gading?” Ayahnya hanya diam dan balik berkata kepaanya: “renungkalah apa arti perawan bagimu…itulah harganya”.
Seorang gadis datang mengatkan kepaa saya bahwa ia tidak perawan lagi. Ini ssuatu yang jarang dilakukan kaum perempuan yang notabene dikenal sebagai makhluk yang suka menyimapn rahasia pribadinya. Dngan sejuta kata maaf mengisahkan kepada saya. Tetapi entahkah aku mesti percaya semuanya itu? Kronologi ceritanya tidak runtut dan terkesan dibuat-buat. Yang aku bisa lakukan adalah menjadi pendengar yang setia. Sebenarnya aku tidak berharap ia akan cerita begitu kepadaku, meskipun aku tahu dari awalnya arah cerita akan sampai ke situ. Aku justru lebih berharap jika ia bertanya kepadaku apa arti perawan? Apakah perawan selalu diidentikan dengan yang suci? Mengapa ada stigma bahwa yang tidak perawan identik pula dengan yang tidak suci. Ahh…perempuan selalu saja jatuh dalam jurang ketidakadilan.
Hai virgin, bangun dan tataplah masa depan..!!!
এতে সদস্যতা:
পোস্টগুলি (Atom)
